 |
| Buku Islamic Studies Karya Dr. Limas Dodi, M. Hum |
Dalam kesempatan kali ini saya akan sedikit
menjelaskan tentang buku yang berjudul “ISLAMIC STUDIES”, pada bab XI “POSISI
SENTRAL AL-QUR`AN DAN HADIS DALAM STUDI ISLAM” yang dikarang oleh Dr. Limas
Dodi, M. Hum. Berikut penjelasannya.
Posisi Al-Qur`an dalam
Studi Islam
Secara etimologi al-Qur`an artinya
mengumpulkan dan menghimpun, sedangkan secara terminologi al-Qur`an adalah
kalamullah yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi ummat
islam. Al-Qur`an merupakan sumber ajaran islam yang berfungsi sebagai petunjuk
dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan.
Studi al-Qur`an pertama kali muncul dengan
lahirnya faedah-faedah bahasa Arab. Setelah masa khulafaurasyidin para tabi`
dan tabi`in mulai mulai membahas ilmu-ilmu Al-Qur`an, setelah itu datanglah
masa pembukuan atau penulisan cabang-cabang ulumul qur`an dan yang pertama
dibukukan adalah tafsir al-Qur`an. Ada empat metode yang digunakan untuk
menafsirkan al-Qur`an, yaitu:
1. Metode
Tahlily, tafsir kata per kata
2. Metode
Ijmaly, tafsir ayat al-Qur`an secara garis besar atau global
3. Metode
Muqarin, tafsir yang memperbandingkan lafadz dalam al-Qur`an dengan lafadz
lainya, hadis dan mufassirin.
4. Metode
Mudhu`/Tematik, penafsiran al-Qur`an dengan memilih topik yang hendak dicarikan
penjelasannya dalam al-Qur`an yang berhubungan dengan topik, lalu di carikan
ayat-ayat yang berhubungan agar satu dengan lainya saling menjelaskan.
Dengan keinginan umat islam untuk memahami
petunjuk-petunjuk dan mukjizat-mukjizatnya, telah mengantar lahirnya sekian
disiplin ilmu ke-islaman serta mengembangkan metode-metode penelitiannya.
Karena al-Qur`an adalah pedoman hidup kaum muslim dan pokok ajaran islam.
Posisi Hadis dalam Studi Islam
Secara etimologi hadis artinya baru atau
berita, sedangkan menurut terminologi hadis adalah segala perkataan (qauliy),
perbuatan (fi`liy) dan taqrir Nabi Muhammad SAW. Selain term hadis, adapula
beberapa term lain yang digunakan sebagai pembanding term hadis antara lain:
1. Sunnah,
hukum ketentuan-ketentuan Allah SWT
2. Khabar,
sesuatu yang dinukil dan dibicarakan atau berita yang disampaikan dari satu
orang ke orang lainya.
3. Atsar,
jejak atau bekas.
Kedudukan hadis terhadap al-Qur`an secara
umum adalah sebagai penjelas. Fungsi hadis terhadap al-Qur`an adalah:
1. Bayan
taqrir, menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan didalam al-Qur`an
2. Bayan
tafsir, memberikan rincian dan tafsiran, persyaratan atau batasan, dan
pengkhususan terhadap ayat-ayat al-Qur`an yang masih bersifat global, mutlak,
dan umum.
3. Bayan
tasyri`, mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam
al-Qur`an.
4. Bayan
naskh, menghapuskan ketentuan yang terdapat dalam al-Qur`an.
Dalam kajian hadis, ruang yang seringkali dieksploitasi untuk dikaji
adalah pendekatan sanad dan matan. Sanad dilakukan karena keadaan dan kualitas
sanad, dan matan dilakukan dengan pendekatan dari segi kandungan hadis. Upaya
untuk mengetahui kualitas hadis melalui sanad dan matan dapat dilakukan
pendekatan ilmu hadis riwayah, hadis diroyah, rijaal al-hadis, jarh wa ta`dil, gharib al-hadis, asbab
al-warud, nasikh mansukh.
Pandangan Teologi
tentang al-Qur`an dan Hadis
Teologi (theologia) secara
etimologi adalah ilmu tentang tuhan, teologi adalah ilmu yang membicarakan
tentang Tuhan dan pertalianya dengan manusia baik berdasarkan kebenaran wahyu
atau berdasarkan penyelidikan akal murni.
Perkembangan
teologi islam pertama metodologi teologi yang merupakan suatu cara untuk
mendoktrin agama melalui pendekatan wahyu dan pemikiran rasionalnya, kedua
menjadi ilmu teologi yang merupakan ilmu yang membahas masalah ketuhanan dan
segala yang berkaitan dengan-Nya. Sumber ideal pembahasan yang digunakan untuk
membangun ilmu teologi adalah al-Qur`an dan hadis dan pandangan hidup (teologi)
seorang muslim berdasarkan al-Qur`an dan al-Sunnah maka yang menjadi dasar atau
fundamental dalam studi islam adalah al-Qur`an dan hadis itu sendiri